Jumat, 13 Juli 2012

:: Sih ::


SETUMPUK bibir menyunggingkan senyum. Sih puas dengan jerih payahnya setiap pagi. Ia hanya tidak puas pada derita jiwa yang masih dikekang raga.
Telapak kaki yang ia gunakan untuk berpijak telah menebal beberapa centi. Langkahnya pasti, berangkat sebelum subuh ke hutan jati. Rombongan pencari kayu yang dulu ramai, kini tinggal Sih sendiri. Langkah-langkahnya biasa didahului kawan-kawan pengumpul ranting jati, dengan Hember tua, Gazelle tua, dan Vesting keluaran RRT yang mereka naiki. Sih tidak punya, bukan karena tak kuasa membeli.
Ia pulang ketika matahari menyinari dahi. Di punggungnya sebongkok kayu bakar dari ranting-ranting sisa pencuri. Jarik gendong yang dulu melingkar di tiga perut bayi, memeluk erat puluhan kayu bakar di punggung Sih. Bukan karena sedang melacak dompet yang tercecer bila ia berjalan membungkuk, lebih karena beratnya beban ranting basah seukuran betis.
Jika hari sedang mengikuti kata hati, Sih tak perlu jauh membawa kayunya pulang ke rumah. Lambaian tangan bisa segera meringankan beban di punggung. Tujuh ribu rupiah sudah cukup mampu menghilangkan rasa pegal di badan.
Sih letih, namun tidak heran. Ia memang perempuan yang tak pernah makan bangku sekolahan. Kata orang-orang, uang kertas dalam kepalanya berakhir di angka sepuluh ribu. Dua puluh ribu? Lima puluh ribu? Seratus ribu? “Itu bukanlah uang, hanya kertas yang tidak laku,” katanya.
Ia duduk sore itu. Di hadapannya sebuah meja segi empat dari kayu Trembesi seharga empat kali ia menjual kayu bakar jati. Kursi yang menyangga pantatnya kini harganya empat kali ia berjalan ke hutan. Sih tidak sadar, di bawah kursi-kursi yang mengitar meja pada empat sisinya seekor undur-undur sedang membuat rumah.
Iringan air mata langit sedikit-sedikit memercik dahi, melewati sela-sela genting tua dari tanah liat warisan budaya Babylonia. Langkah-langkah para petani pulang kandang juga turut serta mengalir masuk ke telinga Sih. Pijakan di tanah basah mambuat suara yang melewati lubang kecil-kecil di antara bambu-bambu tipis yang telah dianyam.
Janda itu masih duduk menyangga dagu dengan tangan kiri. Sikutnya menempel di meja, tangan lainnya sesekali mengambil intip lalu memasukkan ke mulut berbibir hitam. Tiang penyangga rumah hanya diam berdiri tegak, semuanya tak mampu mengajak bicara. Tetaplah Sih dalam kesendirian, namun tidak membosankan.
Suaminya? Tidak mungkin pecundang itu datang. Dua anak lelakinya, biarlah masing-masing mencari makan. Sang Hyang Lawu masih sayang, tak mungkin menelantarkan dua kepala yang belum mencapai lima belas tahun. Wo Imai sudah pasti bernasib baik. Si bungsu sejak masih berumur tiga bulan sudah dibawa mobil sedan. Sih menerima emas berupa kalung dan gelang sebagai imbalan, belum lagi tiga ratus uang sepuluh ribuan.
Sambil duduk, Sih masih belum paham, kemana emas dan uang. Meski ia sadar semuanya telah menjadi pembungkus tulang di tubuhnya. Tanpa ia sadari, zaman telah berganti. Di luar kemampuan kepala Sih, kayu bakar menjadi korban konversi. Pikirannya tak mampu menjangkau berita di televisi, walaupun sekadar mambayangkan. Maklum, ia satu-satunya janda setengah baya buta aksara di Banyubiru.
Sih beranjak ke belakang rumah. Kayu bakar yang ia kumpulkan telah memenuhi belakang rumah. Tak seorang pun dalam bulan ini orang sudi membeli.
Seeor tokek berbunyi delapan kali sebelum pintu reot rumahnya diketuk seseorang. Sih beranjak ke depan, sandal japit di kakinya menginjak rumah undur-undur yang belum selesai dibangun. Ia menarik slot pengunci pintu yang terbuat dari kayu. Pintu terbuka sebelum Sih sempat menariknya.
Ia masih ingat siapa pria di depannya meski hari mulai petang dan lampu bohlam lima watt tak begitu menyala terang. Siang tadi, pria itu tersenyum lalu mengedipkan mata kiri saat Sih sedang menjemur kayu bakar di bawah pohon pisang. Sih tersenyum juga dan membalas kedipan, mengaggukkan kepala ketika pria itu sore nanti akan datang.
“Aku dari sawah, langsung kemari,” menyelonong masuk melewati tubuh Sih sambil tangannya sibuk membuka kancing baju. Sih masih berdiri di depan pintu tatkala pria itu menjereng baju di sandaran kursi. Pria itu juga tidak tahu tetasan air dari bajunya memaksa undur-undur pindah tempat untuk membuat rumah.
“Eh, tutup pintunya,” yang diperintah baru saja ingin menghampiri pria itu, namun ia balik kanan dan menuju ke pintu.
To, pria yang datang di waktu hujan, adalah orang pertama yang sudi masuk rumah Sih. Ia tetangga RT, jika berjalan kaki ke sawah selalu melintas di depan rumah Sih yang lebih pantas disebut gubug reot pinggir sawah. Istri To perempuan yang cantik, tidak seperti Sih.
“Ayo,” tatapan mata To menggerayangi sekujur tubuh Sih. Perempuan itu tak biasa menerima tamu, tapi sering bertamu. Ia ingin mencontoh tiap orang yang pernah menjamunya ketika mengantar kayu bakar: membuatkan minum.
“Tidak usah,” kata To.
Polos, lugu, jujur, namun tumpul, seperti ketika ia membalas kedipan mata To. Tak paham artinya, tak tahu maksud kedatangan To juga. Lalu ia mendekat dan duduk berhadapan dengan lelaki yang masih basah kuyup.
“Satu kuintal padi akan kuantar ke rumah ini, musim panen masih dua bulan lagi,” To berbicara seperti itu sambil berdiri menarik tangan Sih, membawanya ke sebuah bilik ranjang yang disekat dengan anyaman bambu berpintu kain kelambu.
Sih mengikuti tangan yang menariknya, sejenak ia berhenti sebelum menyibak kelambu. “Satu kuintal, benarkah?” tanya Sih dengan girang. To hanya mengangguk penuh birahi. Sedangkan Sih masih belum tahu apa yang sebentar lagi terjadi, ia hanya mengikuti.
***
Undur-undur yang terganggu, cicak yang diam, dan tokek yang tadi berbunyi menjadi saksi petang itu. Mereka tidak akan bercerita kepada siapa-siapa. Seorang Sih memang sunguh-sungguh tak mengerti makna dosa, tak tahu arti neraka, sebab tak ada yang memberi tahu. Sedari kecil ia senantiasa bekerja, melakukan sesuatu untuk mendapat upah, menjual barang akan mendapatkan uang. Orang tua Sih tak memperkenankan anaknya sekolah, takut menjadi orang yang tidak jujur.
Para tetangga juga tak mendidiknya. Sih adalah kayu bakar, jika butuh memasak, barulah mereka ke rumah Sih, sebatas membeli kayu lalu pulang. Begitupula dengan Sih, tak pernah merumpi dengan para ibu. Ia tahu hidup untuk bekerja, hidup tidaklah untuk bicara saja, itu pesan orang tua Sih.
Peristiwa di balik kelambu malam itu adalah pengalaman baru bagi Sih. Ia ikuti kemauan To melepas gejolak pangkal pahanya. Toh, To memberinya satu kuintal, meski menunggu panen. Sih juga tahu kebiasaan itu, para manusia di desanya bilang masa panen adalah masa membayar. Mereka akan membayar pupuk yang sebelumnya telah mereka pakai, mereka akan membayar biaya SPP anak-anak, mereka akan membayar hutang di warung, bahkan membayar kayu bakar milik Sih juga di waktu panen. Sih maklum dan percaya.
Sih seakan mendapatkan pengalaman berharga. Tapi ia tak mungkin menawarkan auratnya dengan cara berteriak seperti menjual kayu bakar. Selugu-lugunya janda itu, ia tahu bawah perutnya tak boleh dibicarakan dan dipertontonkan. Namun boleh diapa-apakan di tempat yang tertutup, toh dulu suaminya juga melakukan hal yang sama.
“Ia akan memberiku satu kuintal, dulu suamiku tak memberi apa-apa,” batin Sih suatu siang. Sejak itu, berkali-kali To datang ke rumah Sih. Terkadang dua hari sekali, seminggu sekali, asal lingkungan sedang sepi, meski tak harus ada hujan.
Man dan Basu, pria bercucu dan beranak satu, mengikuti jejak To. Bagi Sih, itu melegakan hati, kayu bakarnya sudah tak bisa diharapkan. Perempuan itu membuat satu kuintal sebagai sebuah patokan. Tidak kurang, boleh lebih. Segalanya terjadi setelah mereka berdua mengangguk. Namun Sih masih bingung satu hal, mengapa ketiganya berpesan pada dirinya agar tidak menceritakan yang disaksikan undur-undur, tokek, dan cicak kepada siapa pun? Sih hanya mengikuti.
Dua bulan dinanti Sih dengan menghitung kusen pada langit-langit rumah yang sebenarnya adalah genting. Besoknya lagi ia menghitung genting, lalu jumlah nyamuk yang mengiang di telinga seperti mengejek saja tanpa menggigit. Bukan jumlah sebenarnya yang didapatkan Sih ketika berhenti menghitung, namun hasil yang diinginkannya. Hidup penuh hitungan, berhenti ketika lelap menjemput mimpi.
Pagi itu Sih tak ke hutan. Ia menyapu, dilihatnya banyak rumah undur-undur di lantainya yang berdebu. Jogan tempatnya berpijak memang tempat yang membahagiakan bagi binatang itu. Sih melihat satu rumah undur-undur yang besar, berbentuk kerucut terbalik sempurna, tepat di bawah tiang dalam rumahnya yang dekat dengan kelambu.
Sih girang, ia mengangkat sapu, mengembalikan ke belakang rumah, lalu balik lagi di atas rumah undur-undur. Sih memperhatikan seekor belalang sangit mati terperangkap dalam jebakan rumah undur-undur. “Musim panen tiba,” girang Sih setengah berbisik.
Sih keluar rumah, bertanya kepada Wo Min yang kebetulan membawa dua sak padi di atas sepedanya. Jawaban yang Sih terima, “Belum, baru beberapa sawah, seminggu lagi panen besar.”
Panen pertama hingga panen raya membuat Sih sedemikian sibuk. Ia memberikan jasanya membantu pemilik sawah memanen padi. Bermodalkan sabit kecil untuk memotong tanaman padi, batu seukuran kepala manusia untuk merontokkan padi dari tangkai, dan layar tempat memukulkan tangkai-tangkai padi ke batu, ia berangkat pagi, meninggalkan kesehariannya di hutan jati.
Sepuluh kilogram yang ia kumpulkan, mendapatkan upah satu kilogram padi. Sayangnya Sih tidak tahu hitung menghitung. Setahu Sih, bawon [1] yang ia dapatkan berjumlah satu sak, itu saja. Padahal kalau ia tahu, selama satu minggu, ia hanya diupahi 60 kilogram, itu pun setelah derep [2] di sawah Wo Min, Bupad, dan Panut. Belum lagi harus mengusung dari sawah ke rumah, tentu begitu lelah.
Sih sebenarnya juga tak mampu membayangkan, satu kuintal itu berapa sak. Yang ia tahu jumlah itu banyak, bahkan sangat banyak. Sambil duduk di kursi, bawon satu sak yang kini sudah bersandar di tiang rumahnya ia perhatikan. Lalu angannya melayang ke mulut To di petang pertama singgah di rumah Sih. Seperti sebuah kaset ia memutarnya kembali, “Satu kuintal,” ia lanjutkan memutar kaset kedua dan ketiga, bunyinya sama.
Setiap sore Sih duduk di kursi, persis saat hujan ia mendengar langkah langkah petani pulang dari sawah seperti dulu. Setiap sore juga, tak ada langkah kaki mendekat, terdengar lalu hilang. Penantiannya mencapai dua purnama. Musim panen berganti tanam, masih tak ada ketukan di pintu.
Suatu saat seorang perempuan datang ke rumah Sih, membeli kayu bakar. Ia bernama Warti, sebelum beranjak pulang, Sih berpesan kepadanya, “Suamimu punya hutang gabah satu kuintal.” Dan Sih menjawab dengan polos berondongan pertanyaan yang muncul setelah pernyataannya.
Sih tak tahu etika itu, Sih tak tahu cara berbohong. Umpatan yang ia terima dari istri To ia anggap ocehan burung pentet yang diam jika sudah makan belalang. Namun makian dan tamparan yang datang dari To beberapa saat kemudian, membuatnya menjadi linglung. Sih tidak bisa menangis karena Sih benar-benar tidak paham etika pangkal paha.
***
“Musyawarah pada malam hari ini akan diawali dengan pengakuan dari Sih,” ujar Kamituwa di tengah warga kampung. Acara malam itu memang heboh, tidak sepi seperti rapat biasa.
Sih melakukan yang diperintahkan Kamituwa, membuat pengakuan. Selama seperempat jam ia berbicara dengan bahasa Jawa dan raut muka menunduk. Tangannya mengelus-elus perut yang kini sudah tampak mengendut.
Manusia-manusia yang disebutkan dalam ceritanya tidak ada yang datang, tidak masuk wilayah pemerintahan Kamituwa. Detik itu juga puluhan pemuda menuju rumah-rumah manusia dalam cerita. Tak lama ketiganya tiba, diseret di tengah-tengah telaga manusia yang marah, akibat saling tuduh antar sesama tak pernah terbukti kebenarannya. Kini kebenaran itu telah duduk bersila di depan Sih, di samping Kamituwa, di tengah kepungan warga.
“Apakah kalian bertiga?” suara Kamituwa parau. Hanya To yang mengangguk, Basu menggeleng marah dan membentak Kamituwa. Tak disangka lemparan air ludah meluncur dari mulut-mulut warga yang sedang butuh sasaran amarah. Sedangkan Man malah menangis.
“Penuhi janji kalian kepada Sih sekarang juga,” para pemuda membawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Sebentar kemudian ketiganya kembali ke rumah Kamituwa membawa sembilan sak gabah, masih di bawah ancaman para pemuda.
Kamituwa menyuruh semua orang untuk diam. Ia melihat Sih, lalu menyapu ketiga wajah laki-laki terhukum dengan mata yang dibuat bijaksana, “Kalian bertiga adalah ayahnya, biayai persalinan Sih.”
“Aku yang akan membesarkan bayi di perut itu,” tutup Kamituwa. (*)
 .

:: Cinta Diujung Senja ::

SEJAK awal aku sebetulnya tidak mau datang ke acara reuni ini. Apalagi ketika Muhsin, kawan karibku sewaktu di aliyah dulu, mengatakan bahwa Dini akan datang.
Tapi, Bu Yetty, guru yang paling mengerti tentang diriku, dan kepadanya aku dan Dini sering curhat, memaksaku. “Ilham, datang ya. Ibu kangen sama kamu. Sudah lima belas tahun nggak ketemu,” ucapnya di telepon minggu lalu.
“Datang ya, Il, ada kejutan buat kamu, lho,” Inu sang ketua panitia reuni membujukku lewat SMS.
Sejujurnya, aku juga kangen bertemu teman-teman dan guru-guru. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Mungkin mereka semua sudah menikah dan punya anak. Boleh jadi juga sudah banyak yang perutnya gendut.
Namun, aku merasa tidak siap untuk bertemu Dini. Aku tak mau hatiku terluka kembali mana kala melihat sosoknya. Ya, Dini adalah gadis pujaanku saat di aliyah dulu. Gadis Jawa itu begitu lembut dan anggun dengan bulu mata lentik dan sorot mata teduh yang selalu mampu menenangkan hatiku. Kerudung putih membuat wajahnya bertambah cantik. Posturnya semampai dalam balutan baju panjang dan rok panjang abu-abu.
Kami sering shalat dhuha dan membaca Alquran bersama di mushala sekolah. Tiap ada acara pengajian, aku dan dia selalu duduk di baris paling depan. Kami pernah merajut cita-cita untuk membina keluarga yang saleh. Aku akan memanggilnya “Ummi” dan ia memanggilku “Abi”. Dan, rumah kami setiap hari akan diramaikan oleh tingkah polah anak-anak yang ceria.
Lulus aliyah, aku berhasil mendapatkan beasiswa ke Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, sedangkan Dini melanjutkan kuliah ke UIN Jakarta. Kami berjanji akan tetap menjaga cita-cita tersebut dan akan mewujudkannya sepulangnya aku dari Mesir.
Namun, baru dua tahun aku menuntut ilmu di Negeri Seribu Menara itu, cita-cita tersebut kandas. Ayah Dini sakit keras, dan permintaannya sebelum dia meninggal adalah dia ingin agar Dini menikah. Mereka menelepon aku. Tapi, tak mungkin aku pulang mendadak dan menikah dengannya. Akhirnya, Dini dinikahkan dengan seorang laki-laki yang katanya masih ada hubungan kerabat jauh.
Luka hatiku sangat perih. Rasanya tak percaya bahwa cinta bisa semudah itu diretas. Untuk melupakan Dini, aku memfokuskan perhatian hanya pada pelajaran. Aku berhasil lulus S-1 dengan predikat mumtaz (cum laude). Ketika ditawari beasiswa S-2, langsung saja aku ambil.
Hampir lima tahun, aku berhasil menggondol gelar MA, juga dengan yudisium mumtaz.
Aku belum berniat pulang meskipun orang tuaku berkali-kali mengirim surat minta agar aku kembali ke Tanah Air dulu, setelah itu boleh balik lagi ke Mesir. Aku mengambil beasiswa program S-3 dan menyelesaikan kuliah doktoral selama empat tahun.
Mungkin bisa dibilang patah arang, aku sudah membulatkan tekad tidak akan kembali ke Tanah Air. Namun, suatu hari, tepatnya dua tahun silam aku bertemu menteri agama dalam sebuah seminar keislaman internasional di Kairo, di mana aku turut menjadi panitia. Menteri mengajak aku kembali ke Tanah Air karena katanya keahlianku di bidang tafsir sangat diperlukan.
***
“Ilham, thanks lho udah mau datang,” sapaan Inu mengagetkanku.
“Hei, Ilham. Mana nyonya?” tanya Edy, kawan kami yang paling bandel. Aku menggeleng.
“Sekian tahun kau di Mesir. Masa sih gak ada satu pun cewek yang bisa kau gaet? Kalau tidak dapat gadis Mesir, gadis Indonesia pun tak apalah,” Pandu si playboy menimpali.
“Begitulah kenyataannya.”
Ssst! Nyonyanya sebentar lagi datang lho,” kata Inu.
“Maksudmu?” tanya Edy dan Pandu bersamaan.
“Ada deh. Tunggu aja,” sahut Inu sambil tersenyum.
Satu per satu rekan-rekan seangkatanku tiba di tempat acara, sebuah restoran kebun yang terletak di Jalan Margonda Raya, Depok. Beberapa orang guru juga datang, termasuk Bu Yetty.
“Eh, Ilham, ibu kangen banget sama kamu.”
“Saya juga kangen sama Ibu,” aku mencium tangannya.
“Ada seseorang yang sangat merindukanmu. Sebentar lagi juga dia sampai di sini.”
“Siapa, Bu?” tanyaku walaupun aku sudah bisa meraba ke mana arah pembicaraan Bu Yetty.
“Dini.”
“Dini?” Masih juga aku terkejut, meski aku menebak nama itulah yang akan diucapkan oleh Bu Yetty.
“Iya, Dini. Dia sudah menjanda, lho. Lima tahun lalu. Suaminya meninggal karena kecelakaan pesawat. Mereka tak punya anak. Dini janji sama Ibu, dia akan datang ke acara reuni ini.”
Hatiku tiba-tiba seperti bunga mati yang mekar kembali. Dini! Ah, calon ibu anakanakku itu, masihkah dia seperti dulu: selalu senyum dikulum dan suaranya selalu mampu menenangkan kegundahan hatiku.
Sudah hampir pukul 12.00 siang, namun Dini belum juga tiba.
“Tenang, Il, sebentar lagi juga dia datang. Dia langsung dari bandara. Ada acara di Bali,” Inu seperti mengerti kegalauan hatiku.
Ketika sebuah SMS masuk ke HP-nya, Inu segera menyodorkannya kepadaku, “In, aku udah di taksi. Kira-kira satu jam lagi nyampe di tempat acara. Dini.”
Namun, hingga pukul satu, Dini belum juga sampai. Ditunggu hingga pukul dua siang, juga tidak ada kabar berita.
Pukul tiga sore HP Inu berbunyi. Setelah berbicara sejenak, wajahnya langsung pucat pasi.
“Ada apa, Inu?” tanyaku dan beberapa kawan serempak.
“Dini tabrakan… sekarang di UGD… tadi petugas mendapatkan nomorku dari HP-nya Dini,” suara Inu terbata-bata.
***
Sepanjang malam aku menunggui Dini. Berharap ada keajaiban. Kepala Dini diperban dan di tangannya terselip selang infus. Ia mengalami pendarahan yang sangat parah. “Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku kehilangan Dini untuk kedua kali,” bisikku dalam hati.
Pukul dua dini hari, ibu dan adik Dini, Dinda, tertidur sambil duduk di bangku. Aku berwudhu, lalu shalat hajat dan tahajud.
Aku teringat kisah tiga pemuda Kahfi saat mereka terkurung dalam gua. Masing-masing berdoa menyebut kebaikan mereka. Dan, tiap kali satu orang menyebutkan kebaikan yang pernah dilakukannya, batu penutup gua bergeser sedikit. Sampai akhirnya, pintu gua itu terbuka dan mereka dapat keluar dari dalam gua.
“Ya Allah, aku pernah memberikan seluruh tabunganku kepada seorang sahabatku yang akan menikah di Mesir dulu. Jika hal tersebut merupakan amal saleh yang Engkau terima, tolong selamatkan dan sembuhkan Dini,” ucapku perlahan.
Azan Subuh terdengar dari masjid di luar sana. Tiba-tiba aku mendengar suara rintihan Dini. Lalu perlahan matanya sedikit terbuka. Ah, mata sendu itu! Mata yang selalu membuatku rindu menatapnya.
“Din,” aku berbisik di telinganya. Tanganku menggengam jemari tangan kirinya.
“Ilham,” suaranya terdengar parau.
“Ya, Din. Ini aku. Kamu akan sembuh dan kita akan mewujudkan mimpi kita. Membina keluarga bahagia, dengan 10 anak yang semuanya jadi penghafal Alquran.”
Bibirnya berusaha mengukir senyum, namun ia menggeleng lemah.
“Aku ingin shalat,” tuturnya lirih.
Aku segera membangunkan ibunya. Ia membantu Dini tayamum.
Matanya menatapku lembut seperti memberi isyarat. “Kamu mau shalat berjamaah, Din?” bisikku di telinganya.
Ia mengangguk dengan ekor matanya.
Aku segera berwudhu kembali, kemudian menjadi imam shalat. “Ya Tuhan, betapa lama aku merindukan hal ini: menjadi imam shalat bagi Dini dan kelak juga anak-anak kami.”
Selesai shalat, aku segera berdiri. Saat kupandang wajah Dini, matanya terpejam. Ia pingsan kembali.
Aku segera memanggil suster. Ia datang tergopoh-gopoh, lalu memeriksa keadaan Dini. Tiba-tiba, ia tampak tegang dan segera menelepon dokter. Dokter segera datang dan memeriksa detak jantung Dini.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanyaku tak sabar.
“Mari sama-sama kita berdoa, semoga Tuhan memberikan pertolongan kepadanya.”
“Maksud Dokter?”
“Terus terang, kondisinya memburuk, tapi kami akan berusaha semampu kami. Yang penting, teruslah berdoa mohon yang terbaik untuknya.”
Hatiku tercekat. Seperti ada feeling bahwa Dini akan pergi untuk selamanya.
Ternyata benar. Dini tak pernah sadarkan diri lagi. Kira-kira pukul delapan pagi ia mengembuskan napasnya yang terakhir.
Ia pergi tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Kubelai rambut hitamnya dan kukecup keningnya. Wanita yang tak pernah kusentuh selama hidupnya.
***
Upacara pemakaman Dini dihadiri oleh para guru dan teman yang kemarin datang di acara reuni. Sebelumnya, aku diminta oleh pihak keluarga untuk menjadi imam shalat jenazah.
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihaa wa’fu anha…,” doaku begitu khusyuk.
Aku turun ke liang lahat dan mendekap jenazah Dini saat dimasukkan ke dalam kubur. Seusai penguburan, aku menanam dua batang kemboja di dua ujung makam itu.
“Il, kemarin waktu di taksi, Dini sempat telepon aku. Katanya, dia cinta Ilham dan mau datang ke acara reuni karena berharap dapat mengobati luka hati Ilham,” bisik Inu lirih.
Aku menggigit bibir, menahan agar tak ada air mata yang jatuh.
Menjelang pukul lima, acara pemakaman usai. Satu per satu pengantar jenazah meninggalkan pemakaman umum itu. Namun, aku masih duduk termangu di depan makam yang masih merah itu.
“Il, aku duluan ya,” kata Muhsin.
“Saya juga duluan ya, Il,” kata Inu.
Aku cuma mengangguk.
Tinggal aku berdua dengan ibu Dini.
“Maafkan ibu dan almarhum Bapak ya, Nak Ilham,” kata ibu Dini perlahan.
Aku meraih tangannya. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bu. Jodoh, rezeki, maut, semua Allah yang punya. Kita hanya menjalani takdir yang telah Allah gariskan buat kita masing-masing ketika kita masih di dalam kandungan ibu kita, bahkan semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuz.”
Air matanya tiba-tiba kembali menderas. Ia memelukku.
“Ikhlaskan Dini, Nak Ilham…,” bisiknya parau.
“Ya, Bu,” sahutku dengan suara bergetar.
Aku memegang bahunya. “Sebaiknya Ibu pulang duluan. Nanti saya menyusul.”
Ia mengangguk, lalu berlalu menghampiri Dinda, yang telah menunggu di gerbang makam.
Aku kembali bersimpuh di depan makam Dini. Aku membacakan surah al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, An-Nas, ayat kursi, dan zikir serta doa untuk Dini. Seakan-akan ia mengaminkan doaku.
Aku terus berdoa dan berzikir sampai senja datang dan azan Maghrib terdengar. Kupandang makam itu seraya berbisik, “Din, aku shalat Maghrib dulu, ya.”
Seusai shalat di mushala terdekat, aku kembali menyambangi makam Dini. Kembali kukirimkan doa-doa terbaik untuknya.
Senja sudah sampai di ujungnya. Sekali lagi kutatap makam yang masih segar itu, di antara temaram bayang-bayang malam yang kian muram. Di dalamnya terbaring wanita yang kucintai, namun tak pernah bisa kumiliki.
“Din, beristrahatlah dengan damai, semoga Allah selalu menyayangimu di alam sana,” bisikku dengan suara tercekat.
Berat kakiku melangkah. Aku merasa separuh jiwaku ikut terkubur bersama jasad Dini. Sunyi membalut hatiku dan dukaku kian membatu. (*)

:: Menunggu Imam ::

           SEPULUH kali cukup sudah! Aku tak mau mengalami kegagalan cinta yang kesebelas kali. Sudah lelah aku menawarkan cinta ini kepada para wanita, semua berakhir dengan kekecewaan. Padahal, cinta yang aku tawarkan sederhana saja; ‘Maukah engkau menikah denganku?’ Tiga dari 10 orang wanita itu langsung menolakku mentah-mentah. “Bagaimana kita akan menikah kalau kita belum saling kenal?” begitu alasannya.
Dua di antaranya menyatakan mau, tapi minta waktu setahun lagi. Aku tak bersedia menunggu.
Tiga lainnya ternyata sudah ada yang punya. Mereka teman sekantorku. Rupanya sikap ramah mereka hanya sebagai sesama kolega.
Satu orang hampir saja jadian denganku, tapi dia dijodohkan oleh orang tuanya.
Namun, yang paling tragis adalah Mia, adik kelasku di Pesantren Gontor dulu. Ketika aku datang ke rumahnya di Solo, ternyata baru kemarin dia dilamar oleh Ustaz Hidayat, kakak kelasku.
Lima tahun berlalu tanpa cinta. Tahun ini, di usiaku yang sudah beranjak 30, aku ingin lebih banyak merenung dan menjauh dari cinta wanita.
          Karena itu, ketika di kantorku ada karyawati baru yang bernama Nindy dan orangnya sangat cantik, aku telah berbulat tekad untuk tak akan pernah mendekatinya. Biarlah para lelaki yang ada di kantorku ini berlomba-lomba mengejar gadis tinggi semampai itu.
Meskipun demikian, aku tak bisa menghindarinya seratus persen. Sebagai sebuah kelompok perusahaan advertising, media online, dan media radio, jumlah karyawan di perusahaan tempatku bekerja relatif sedikit, hanya sekitar lima puluh orang. Jadi, kami pasti sering berinteraksi.
Di samping itu, aku selalu diminta menjadi imam shalat berjamaah, sebab akulah satusatunya karyawan yang lulusan pesantren. Dan, direktur utama telah memerintahkan seluruh karyawan wajib shalat berjamaah.
***
Enam bulan telah lewat. Belum ada seorang pun yang berhasil merebut hati gadis yang sehari-hari tampil dengan baju motif polos dan rambut diikat itu.
Ngomong-ngomong, kamu nggak minat sama Nindy?” tanya Mbak Ayu pada suatu siang.
Nggak ah, Mbak.”
“Kenapa? Nindy lagi kosong, lho,” kata direktur yang lebih senang dipanggil ‘mbak’ oleh anak buahnya.
“Ah, aku gak percaya Mbak, ada cewek secantik dia ngejomblo.”
“Benar, Fatih. Dua bulan sebelum bekerja di tempat kita, Nindy udahhampir nikah, tapi nggak jadi. Cowoknya menikah dengan orang lain.”
“Sebentar lagi pasti dia udah dapat gantinya,” sahutku cuek.
“Jadi, benar kamu nggak mau sama dia?”
Aku menggeleng.
“Kenapa? Dia cantik dan sopan. Keturunan Arab lagi.”
“Apalagi keturunan Arab. Biasanya dijodohin di antara sesama mereka. Katanya untuk menjaga kemurnian ras dan harta.”
“Jangan sinis begitu. Nggak semua orang keturunan Arab yang tinggal di Indonesia seperti itu. Banyak juga kok yang menikah sama orang pribumi. Kakak mbak yang nomor satu menikah dengan wanita keturunan Arab di Pekalongan. Sepupu Mbak juga menikah dengan wanita keturunan Arab di Surabaya.”
“Setahu saya, biasanya orang Arab menikahnya ya sama orang Arab juga. Apalagi Arab Alawiyyin.” [1]
“Itu dulu. Sekarang orang-orang Alawiyyin pun banyak yang menikah dengan pribumi. Nindy sendiri Arab campuran kok. Ibunya orang Semarang asli. Dua orang kakak Nindy menikah dengan orang Jawa.”
“Nindy bukan campuran Arab Cina?”
“Memangnya kenapa?”
“Matanya agak sipit dan wajahnya sangat putih.”
Nah, ketahuan. Diam-diam perhatian sama Nindy ya?” seru Mbak Ayu.
Aku tak menjawab. Hanya wajahku kurasakan mendadak panas dan sudah pasti merona merah.
***
Acara paparan publik klien kami sore itu selesai pukul setengah empat. Kami segera membereskan perlengkapan dan peralatan. Pukul lima sore, kami bersiap meninggalkan Hotel Gran Melia yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.
“Ade, Sinta, Nonik, dan Putri pulang duluan ya. Mbak sama Fatih dan Nindy belakangan. Masih ada sedikit urusan dengan klien,” kata Mbak Ayu tiba-tiba.
Aku ingin protes, tapi Mbak Ayu memberi kode dengan ekor matanya.
Hampir pukul setengah enam sore ketika Kijang Innova yang aku kemudikan keluar dari kawasan hotel tersebut. Mbak Ayu duduk di sampingku, sedangkan Nindy di kursi tengah.
Sepanjang perjalanan menuju kantor di Kemang, Jakarta Selatan, Mbak Ayu berkali-kali menggoda aku dan Nindy. Mulanya, aku dan Nindy sama-sama grogi. Tapi, lama kelamaan aku merasa nyaman juga. Kulihat dari kaca spion Nindy pun berkali-kali tersenyum kecil. Suaranya terdengar merdu dan manja. Ketika mata kami beradu, wajahnya yang putih bersemu merah dadu.
Seperti biasanya, Jalan Warung Buncit di sore hari selalu macet. Kami tiba di kantor lewat pukul enam. Baru saja aku mau ke mushala untuk menunaikan shalat Magrib, Mbak Ayu memanggilku ke ruangannya. Ia menyampaikan beberapa hal penting yang harus aku kerjakan besok. “Maaf, Mbak buru-buru. Soalnya udah ditunggu suami, dan kebetulan Mbak lagi nggak shalat,” ujarnya.
Tergesa-gesa aku berwudhu, lalu masuk ke ruang mushala. Tiba-tiba mataku terpaku pada sosok Nindy dalam balutan mukena. Ia tampak jauh lebih cantik dari yang selama ini pernah aku lihat. Dadaku berdesir.
“Sudah shalat, Nindy?” pertanyaan itu seperti meluncur begitu saja dari bibirku.
“Belum. Saya menunggu imam.”
“Oh, kalau begitu mari kita shalat bersama-sama.”
Belum pernah aku merasakan shalat sesyahdu itu. Rakaat pertama, aku membaca surah al-Waqiah ayat 15-26 dan rakaat kedua ayat 27-40. Kelompok ayat itu bercerita tentang keindahan surga yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dari golongan terdahulu maupun golongan kanan. Di antaranya adalah bidadari-bidadari yang bermata indah laksana mutiara yang tersimpan baik, merupakan gadis-gadis perawan, dan penuh cinta.
Selesai shalat, Nindy berkata perlahan, “Mas, bisa sekalian pimpin baca doa ya.”
Aku membacakan sejumlah doa. Ketika tiba pada doa Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatina qurrata a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama, [2] aku mengulanginya sampai tiga kali. Tanpa terasa butiran kristal bening menggenang di pelupuk mataku.
“Mas, apa arti doa yang Mas ulang sampai tiga kali tadi?” tanya Nindy.
“Ya Allah jadikanlah bagi kami, istri-istri kami dan anak-anak cucu keturunan kami perhiasan mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.”
“Mengapa khusus doa tersebut Mas mengulanginya sampai tiga kali?”
Aku menghela napas sejenak. “Karena, aku sangat berharap kepada Allah segera mendapatkan jodoh wanita yang salehah, yang dengannya aku dapat membina keluarga yang indah, penuh ketakwaan, dan kebahagiaan.”
Kutatap matanya, tiba-tiba dia menunduk. Mendadak timbul keberanian dalam diriku untuk bertanya, “Kamu sendiri, apa harapan dan cita-citamu tentang keluarga?”
Nindy mengangkat wajahnya perlahan. Matanya mengerjap. Seperti ada bintang berkilat di sana.
“Kira-kira sama dengan Mas Fatih. Berharap mendapatkan jodoh seorang lelaki yang beriman dan mampu membimbingku ke jalan yang diridhai Allah.”
“Sudah ada calonnya?”
Nindy mengangguk mantap. “Pasti sudah ada.”
Mendadak aku merasa hampa.
“Tapi, Nindy belum tahu dia berada di mana saat ini,” kata Nindy sambil tersenyum.
Ruhku seperti hidup kembali.
“Aku ada satu pertanyaan dan satu persyaratan. Maukah engkau menjawabnya?”
“Baik, Mas.”
“Maukah Nindy menikah denganku?”
“Nindy mau,” jawabnya tegas.
“Tapi, ada syaratnya. Aku tidak mau menunggu lama. Aku mau menikah minggu depan. Apakah kamu siap?”
“Siap. Jangankan minggu depan, besok pun Nindy siap.”
Allahhu akbar! Subhanallah! Alhamdulillah!”
Aku sujud syukur sambil berulang-ulang memuji kebesaran Allah SWT.
***
Malam pertama, pukul tiga dini hari. Aku dan Nindy baru selesai mandi. Kemudian kami menunaikan qiyamullail berjamaah. Shalat Tahajud empat rakaat; dua rakaat-dua rakaat. Disusul shalat Witir tiga rakaat; dua rakaat dan satu rakaat.
Seusai shalat, Nindy mencium tanganku penuh khidmat. Tak henti-hentinya aku mengagumi kecantikan wajahnya yang memancar dari balik mukena putihnya. “Ya Allah, ternyata ada makhluk yang Engkau ciptakan seindah ini. Barangkali beginilah bidadari surga yang Engkau janjikan,” bisikku dalam hati.
Nindy tersenyum. “Kok Mas menatap Nindy terus? Nindy jadi malu.” tuturnya lembut.
Aku meraih wajahnya ke dalam pelukanku.
“Sayang, aku mau berterus terang kepadamu,” bisikku perlahan.
Ia mendongakkan kepalanya. Mata lembutnya seperti menunggu.
“Sesungguhnya, sejak pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh cinta. Aku berusaha menutup pintu hatiku serapat-rapatnya, namun bayang wajahmu selalu menggodaku siang dan malam. Di kantor, sulit sekali rasanya aku memalingkan mataku dari wajahmu, walaupun aku berusaha mati-matian.”
“Nindy tahu itu.”
“Maksudmu?”
“Memangnya kalau dilirik orang nggak terasa? Kalau lelaki itu sering kali mencuri pandang kepada kita?” sahutnya manja.
“Mati aku! Ternyata dari dulu udah ketahuan ya,” gemas aku mencubit hidung bangirnya.
“Itu sebabnya Mas melakukan puasa Daud [3] ya?” tanya Nindy.
Kok tahu?”
“Teman-teman bilang.”
“Betul, aku puasa Daud ketika itu, terutama untuk menjaga mata dan hatiku agar tidak berpaling kepadamu. Bukankah salah satu hikmah terpenting ibadah puasa adalah menjaga pandangan?”
Nindy tersenyum. Ia beranjak dari pelukanku. Kemudian membuka mukenanya.
“Sekarang Mas boleh memandangku sepuas hati. Tak ada dosa dan tak ada yang menghalangi.” Sorot matanya begitu teduh.
“Terima kasih ya, Allah. Engkau anugerahkan kepadaku bidadari terindah.”
Kembali kupeluk dia dan kubelai rambutnya yang hitam legam.
“Satu lagi pengakuanku. Aku selalu berdebar dan mendadak cemburu setiap kali kamu membuka ikat rambut dan membiarkan rambutmu tergerai.”
“Mengapa, Mas?”
“Rambutmu adalah rambut paling indah yang pernah aku lihat. Aku tak rela kalau ada orang lain yang tahu bahwa kamu memiliki rambut yang seanggun itu.”
Tiba-tiba Nindy menyunggingkan senyum yang paling manis.
“Mulai sekarang, rambut indah ini hanya untuk Mas Fatih seorang. Tak ada lagi orang lain, apalagi laki-laki yang bisa melihatnya.”
“Bagaimana caranya?” aku kurang mengerti.
“Nindy telah berjanji sama Allah, akan mengenakan jilbab kalau sudah mendapatkan suami yang saleh, yang mampu menjadi imam di dunia dan akhirat. Selama ini, Nindy bekerja sebetulnya sambil menunggu imam. Sekarang imam itu sudah Nindy dapatkan.”
Aku kehabisan kata-kata. Ya Allah, nikmat-Mu ini teramat besar bagiku.
Kembali kupeluk istriku dan kubiarkan air mataku jatuh di wajahnya yang seputih pualam. (*)



Catatan:
[1] Orang-orang Arab yang berasal dari Hadramaut (Yaman), dan mengklaim masih keturunan Rasulullah.
[2] Quran Surat ke-56.
[3] Sehari puasa, sehari berbuka.

:: Lilin ::


“Tersebab aku mustahil jadi matahari
Atau cahaya purnama muram,
Jadikanlah aku sebatang lilin,
Yang kemerlap dalam gelap”
 .
“BERTINDAKLAH seperti lilin, menerangi gelap di sekitar kita.” Itu kata Mbah Tahal Karyoutomo, ayah kandung ayahku. Tentu saja aku tidak mendengar langsung kata-kata Mbah Tahal atau Eyang Tahal atau Eyang Kakung, sebut apa saja. Bagiku sama saja. Anak-anakku menyebut kakek dan neneknya Mbah Kakung dan Mbah Putri, disingkat Akung dan Uti. Cucu-cucuku pun juga menyebut kami Akung dan Uti, tidak pernah menyebutnya dengan lengkap apakah Eyang atau Mbah. Apa bedanya? Kata sebagian orang, eyang lebih terhormat daripada mbah, tetapi ukuran apa yang dipakai? Aku menyadari bahwa aku hanyalah keturunan rakyat jelata.
Ayahkulah yang meneruskan kata-kata kakek kepadaku, pada dini hari selepas makan sahur, sebab aku tidak ingat wajah Mbah Tahal. Ibuku pernah bercerita bahwa Mbah Tahal pernah menjengukku di Desa Bululawang, desa yang terletak di seberang sungai dari Desa Sutojayan tempat Mbah Tahal tinggal. Sedangkan di Bululawang status kami adalah pengungsi. Sejak Belanda berupaya menguasai kembali Indonesia, kami bergerak dari satu dusun pengungsian ke dusun lain. Aku benar-benar tidak bisa mengingat wajah Mbah Tahal. Celakanya, tidak ada foto yang dapat mengingatkan aku kepadanya. Hanya, aku punya foto Pakde Juri di depan rumahnya, yang dulunya rumah Mbah Tahal. Pakde adalah anak sulung, sedangkan ayahku anak bungsu di antara delapan bersaudara. Hanya pakde dan ayahku yang anak lelaki, selebihnya perempuan.
Mbah Tahal meninggal saat kami masih tinggal di Bululawang dan berita kematian disampaikan oleh entah salah seorang kerabat di dalam keadaan gawat perang. Setiap saat pasukan Belanda melakukan patroli keluar masuk desa. Dan ayah, katanya kelak, harus datang ke Sutojayan tempat tinggal Mbah Tahal. Celakanya saat sampai di sana, ada patroli Belanda, dan dengan gemetar, mengenakan sarung serta telanjang dada ayah menyalakan api tunggu di dapur saat terjadi penggeledahan. Syukurlah, tidak dicurigai dan ayah selamat dari operasi. Esoknya penguburan dilakukan.
Sedangkan Mbah Putri Tahal berumur panjang. Aku punya fotonya saat berkunjung ke rumah kami di Malang, saat sudah merdeka sepuluh tahun. Foto Mbah Putri bersama Mbah Ning, kakak kandung nenekku dari pihak ibu yang bersuami orang Belanda insinyur pembangunan jalan raya, namun mereka tidak punya keturunan sampai suaminya yang Belanda itu pindah ke Makassar dan kemudian entah raib ke mana, mungkin pulang ke negerinya dan kami tak tahu beritanya. Yang jelas, di Desa Pakisaji, dia meninggalkan tanah yang sangat luas, di atasnya berdiri dua buah rumah, yang satu ditinggali nenek sampai saat meninggalnya, sedangkan yang satu lagi yang katanya berarsitektur Belanda yang indah hancur oleh pengeboman Belanda pada Juli 1947, bersama dibomnya dua tangki minyak raksasa yang katanya persediaan minyak Belanda sendiri. Gelegar bom sampai terdengar dari Desa Bululawang tempat kami mengungsi.
Foto Pakde Juri berpose duduk di kursi, aku sendiri yang memotretnya memakai kamera milik kakak sepupuku yang sejak kecil ikut ayah dan dianggap sebagai anak kandung sendiri. Dia adalah anak kakak perempuan ayahku yang sejak kecil yatim piatu, dan sebagai paman, ayahku yang sudah punya pekerjaan sebagai school-opziener (penilik sekolah) rupanya punya kewajiban untuk memelihara kemenakannya itu.
Di dalam foto, Pakde Juri mengenakan jas dengan kancing penuh dan dihiasi rantai jam yang menjadi mode saat itu. Di rumahnya, Mbah Tahal mempunyai berpeti-peti piring keramik buatan China yang berwarna biru. Rupanya, peti-peti atau yang disebut jodang itu beserta isinya sudah dijual habis oleh entah siapa. Di rumah kami di Malang tersisa dua buah piring yang dipasang di tembok kamar tamu. Piring itulah yang diincar oleh Andi, anak kami yang saat menempuh kuliah di ITN Malang tinggal bersama neneknya di rumah Jalan Lebaksari itu. Keinginannya tersebut pernah diungkapkan langsung pada waktu ibuku masih hidup, namun sekarang piring tersebut masih di sana dan ibu sudah meninggal pada usia 87 tahun beberapa tahun lalu.
Aku tidak tahu mengapa desa itu dinamai Sutojayan, adakah hubungannya dengan Sutawijaya? Aku juga tidak tahu kenapa Mbah Tahal yang orang desa itu punya banyak jodang yang berisi piring-piring keramik asal China? Aku juga tidak tahu mengapa Mbah Tahal yang tinggal di desa itu punya rumah yang disebut antik untuk masa kini? Bagian depannya punya pintu berukir yang kalau tak salah bernama gebyok yang merupakan pintu rumah bangsawan. Gebyok itulah yang diburu oleh Dr. Hazim Amir yang dosen IKIP Malang dan menjadikan rumahnya di kompleks kampus IKIP sebagai semacam museum yang penuh dengan gebyok, roda pedati, roda dokar, dan segala macam tetek-bengek yang tidak selalu menjadi kegemaran orang berduit. Anehnya, setiap punya uang, Dr. Hazim Amir berburu gebyok ke desa-desa dan memboyongnya ke rumah. Mungkin salah satunya diboyong dari rumah Mbah Tahal almarhum di Sutojayan.
Kakak keponakanku, Mas Darmo, pernah bercerita bahwa Mbah Tahal adalah sisa-sisa pasukan Pangeran Diponegoro yang menyingkir ke timur, membuka lahan pertanian di sana. Tak heran, hampir seluruh tanah di desa itu milik Mbah Tahal yang kemudian dibagi-bagi untuk anak cucunya sampai habis. Bahkan, tokoh-tokoh penting di desa tersebut adalah keturunan Mbah Tahal. Sayang sekali karena kepindahanku ke kota, kemudian ke Bali, aku benar-benar terpisah dari asal-usulku, dan tak ada silsilah yang dapat kupegang mengenai Mbah Tahal dan keturunannya. Yang tersisa adalah kenangan mandi di parit kecil di samping rumah atau mandi di sungai besar di desa sebelah barat. Ayah pernah bercerita bahwa saat dikhitan, anak-anak berendam di lumpur sawah supaya khitannya cepat sembuh. Jangan dicoba hal itu sekarang kalau tidak mau lukanya kena infeksi berat lantaran sawah sekarang sudah penuh insektisida. Padahal, dulu hanya jerami yang dibakar yang dipakai untuk pupuk dan tak ditambah antihama. Itu pupuk terbaik setahuku.
Tentang prajurit Pangeran Diponegoro yang menyingkir, aku juga tak tahu persis. Namun pada suatu malam, ketika aku tinggal sekamar hotel dengan Eka Budianta di Nusa Dua dan aku bercerita tentang asal-usulku, dia dengan meyakinkan mengatakan bahwa kaum cendekia dari Jawa yang menyingkir dari pusat kebudayaan membuang semua buku-bukunya dan hidup sebagai manusia baru yang bebas dari buku. Apakah Mbah Tahal salah seorang di antara mereka? Aku tak yakin, namun bila melihat pakaiannya seperti yang dikenakan anak sulungnya, yakni Pakde Jufri, dan rumahnya dan koleksi jodangnya, mustahil dia sekadar orang kebanyakan. Sebagai orang desa zaman dulu, walaupun kaya raya, mustahil dia berani membangun rumah gaya bangsawan dan mempunyai koleksi jodang yang juga hanya dimiliki para bangsawan. Rumah anak-anaknya pun adalah rumah-rumah biasa, beratap rendah bercampur dengan kandang kambing, kecuali rumah sepupuku yang menjabat juru tulis desa, yang punya beranda yang dibatasi dinding kayu bagian bawahnya dan kawat bagian atasnya.
Apakah Mbah Tahal seorang bangsawan dan karena itu harus kupangggil Eyang Tahal, aku tak tahu. Ayah pun tak pernah bercerita. Namun, orang desa macam apa yang mampu menyekolahkan anak bungsunya sampai di sekolah guru di Probolinggo. Mungkinkah Mbah Tahal benar-benar bangsawan? Nama ayahku, asilnya, Saim atau Shoim yang adalah nama muslim yang berarti berpuasa. Namun, entah siapa yang menjadikannya Koesnosoebroto? Nama gaya kota? Mbah Tahal sendiri bernama lengkap Karyoutomo yang bukan nama orang desa. Tahal sendiri mungkin juga nama muslim sebagaimana aku punya teman dari Makasar yang bernama Prof. Dr. Zainuddin Taha. Kami teman sepondokan di Bintaran Tengah 15, Jogjakarta, saat kami menghadiri Penataran Dosen Bahasa Indonesia dan Inggris se-Indonesia. Banyak pemondok di rumah Pak Sumadi ini, antara lain, Oka Kusumayudha yang wartawan dan Fauzy Ridjal, mahasiswa ekonomi UGM yang nyaris MA atau mahasiswa abadi yang sering dikunjungi Ashadi Siregar, novelis terkenal dengan novel Cintaku di Kampus Biru.
Ternyata, pengetahuanku mengenai nama-nama sangat miskin. Namun setahuku, nama-nama keluargaku di Desa Sutojayan itu nama muslim yang dijawakan seperti nama ayahku.
Lalu, dari mana filsafat lilin yang menerangi kegelapan berasal? Mbah Tahal mungkin berhubungan dengan lampu teplok, senthir, obor, tetapi apakah ada yang dia baca mengenai lilin? Aku tidak tahu, tetapi yang penting aku telah mencoba untuk menjadi lilin yang menerangi kegelapan. Pekerjaanku sebagai dosen tidak bisa membuatku kaya raya, tetapi aku tidak menyesal. Baru-baru ini ada reuni lulusan jurusan tempat aku mengajar dari awal sampai pensiun, tepatnya sampai aku dipensiun oleh peraturan menteri pendidikan nasional. Saat semua setuju agar jabatan profesorku dapat diperpanjang sampai aku berusia 70 tahun, termasuk Dirjen Dikti yang setuju, menteri justru menetapkan aku harus pensiun berdasar permen (bukan permen yang enak) yang dikeluarkan setelah berkas pengusulanku sudah di meja Dirjen. Menurut permen yang dikeluarkan bulan Desember, hanya guru besar yang bergelar doktor yang boleh diperpanjang jabatannya sampai usia 70 tahun. Beberapa teman guru besar yang bergelar Drs. saja, namun lebih tua beberapa bulan dariku langsung mengantongi SK perpanjangan pensiun. Aku anggap itu bukan rezeki. Aku memang bukan orang yang pandai, mungkin malah dianggap pandir karena senang menulis buku fiksi, puku puisi, dan buku esai, serta menulis di koran. Waktu pengusulan ke jabatan guru besar pun tiga kali ditolak, dan akhirnya diputuskan agar berkas usulanku diperiksa oleh pemeriksa di luar kampus. Ternyata, berkas tersebut dikirim ke Prof. Zuchridin yang juga seorang sastrawan yang tahu aku banyak menulis buku. Pertanyaannya aneh: “Mana buku-bukumu, Yon?”
“Sudah ditolak, Pak.”
Aku tahu karya sastra dapat dihargai dengan angka kredit, dan itu ada aturannya yang tidak mau diketahui oleh para pemeriksa. Bagi mereka, karya sastra sekadar khayalan. Hanya Prof. Nyoman Tirta yang membelaku karena dia paham masalahnya, padahal bidang studinya biologi, dan dia membaca sastra, bahkan yang ditulis di dalam bahasa Inggris.
Ajaran Mbah Tahal aku upayakan di dalam memberi terang kepada mahasiswaku. Ternyata, banyak di antara mereka yang ingat. Bulan lalu, sewaktu mereka mengadakan reuni di kampus yang tidak bisa kuhadiri karena kalau hadir harus dibantu didorong di kursi roda, ternyata puluhan bekas mahasiswa yang datang menengokku sampai empat tahap. Dua di antara mereka malah menolongku mengobati sakit kakiku dengan cara mereka masing-masing, yang pertama Ivon dan yang kedua Witama yang sudah menjadi Jero Gede semacam pendeta. Pakaiannya saja putih-putih.
Lilin itu masih kulihat bersinar di wajah mereka. Kata temanku yang lain, lilin membakar dirinya untuk menerangi dunia sampai habis. Habis berarti musnah, sebagaimana aku nanti juga musnah. Dalam usiaku yang mendekati 70 tahun, mampukah aku pensiun, atau terus akan menjadi “guru besar emeritus” tanpa ada yang menggaji. Aku teringat Mbah Tahal melalui foto Pakde Juri yang tewas di dalam sebuah kecelakaan lalu lintas sebagaimana Wawan, sulung kami yang mengalami nasib yang sama pada usia 17 tahun. (*)
 .
.
Singaraja, Mei 2011

:: Cinta Berbatas Logika ::


          MALAM telah sangat larut. Ayu belum juga bisa tidur. Pikirannya masih berkutat pada keinginan suaminya untuk menikah lagi. Istri mana yang tak syok dimintai izin suaminya seperti itu. Dilihatnya Dedi, suaminya, telah tidur pulas di sampingnya. Dia cermati wajah suaminya. Laki-laki berumur 40 tahun ini memang ganteng, tak berbeda seperti saat pertama kali Ayu mengenalnya dulu. Karena rajin berolah raga, tubuhnya juga atletis, tidak berperut gendut seperti laki-laki seusia dia lainnya. Rambutnya juga masih hitam belum ada selembar uban pun di kepalanya. Ah, perempuan mana yang tak akan tergoda dengan wajah ganteng seperti itu, apalagi dengan kedudukan dan kekayaan yang dimilikinya.
Ayu kini merasa tidak sebanding dengan suaminya itu. Mengapa Tuhan menciptakan dia dengan berbagai penyakit seperti ini sedangkan perempuan yang lain bisa menikmati kehidupannya yang indah? Selama ini Ayu terlalu percaya pada keajaiban cinta, seperti halnya kisah hidup seorang penderita lupus yang begitu dicintai suaminya hingga suaminya tak ada keinginan untuk menikah lagi.
Sang suami begitu setia merawat istrinya bahkan rela untuk tidak mempunyai anak karena sang istri harus diangkat rahimnya akibat digerogoti oleh penyakitnya. Kisah hidup mereka pun diabadikan dalam sebuah buku Miracle of Love, Keajaiban Cinta. Tapi, mengapa suami Ayu tak bisa seperti suami dalam kisah di buku itu? Itulah kini protes yang Ayu ajukan pada Tuhan.
Ayu kembali lagi ke dalam pikiran kalutnya. Sudah seminggu ini suaminya menanti jawaban darinya atas opsi yang ditawarkannya. Ini adalah malam terakhir baginya untuk berpikir karena besok pagi dia harus memberikan jawaban. Ya, suaminya hanya memberinya waktu satu minggu untuk berpikir. Opsi itu adalah dia mengizinkan suaminya menikah lagi atau dia memilih dicerai. Kalau Ayu memilih cerai, maka suaminya akan memberikan kompensasi sebuah rumah mewah lengkap beserta isinya dan sebuah kos-kosan elite 20 kamar sebagai modal hidupnya.
Ayu tahu bahwa sebenarnya suaminya adalah suami yang bertanggung jawab dan menyayangi dia. Suaminya hanya meminta pengertian Ayu agar dia bisa menikmati juga kebahagiaannya sebagai laki-laki. Ayu teringat kata-kata suaminya kepadanya seminggu yang lalu.
“Ma, aku laki-laki normal. Aku butuh seorang istri yang bisa mendampingiku di setiap saat. Aku tidak kuat kalau setiap hari harus menghadapi istri yang sakit-sakitan seperti Mama. Aku ingin menikah lagi, Ma. Aku telah mempunyai calon. Mama sudah kenal perempuan itu, dia adalah Fitri.” Ayu betul-betul kaget waktu itu, tidak mengira bahwa kedekatan suaminya dengan Fitri selama tiga tahun terakhir ini ternyata membuahkan perasaan yang spesial di antara mereka.
Ayu mengenal Fitri sebagai seorang gadis mapan pimpinan sebuah cabang bank pemerintah yang usianya tiga tahun di bawahnya. Selama ini, Fitri telah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Ayu tidak tahu mengapa di usianya yang ke-35 Fitri belum juga menikah. Kini Ayu tahu jawabannya, ternyata Fitri dulu pernah menjadi pacar Dedi. Mereka putus karena Fitri memilih melanjutkan studi ke Australia setelah lulus SMA. Setelah kembali ke Tanah Air, Fitri bekerja di sebuah bank pemerintah dan kariernya terus menanjak hingga akhirnya kini menjadi pimpinan cabang yang kantornya dekat dengan kantor Dedi. Dan, cinta mereka mekar kembali sejak pertemuan mereka kembali tiga tahun lalu.
Selama ini, Ayu tak pernah berprasangka apa-apa setiap kali suaminya mengajak main ke rumah Fitri, atau sebaliknya Fitri yang main ke rumah mereka. Hubungan mereka bertiga juga baik, apalagi mengingat bahwa Fitri adalah putri dari sahabat ayah mertuanya. Ayu juga tahu bahwa Fitri adalah gadis yang baik, yang selalu menjaga hubungan baik dengan siapa saja.
Ingin rasanya Ayu kembali ke masa lalu di saat cinta Dedi hanya untuknya. Dulu memang Ayu adalah gadis yang cantik, cerdas, dari keluarga kaya, dan mahasiswi kedokteran di sebuah kampus terkenal. Maka, tak heran jika dulu Dedi yang waktu itu berstatus sebagai mahasiwa Fakultas Hukum di kampus yang sama dengan Ayu, begitu memuja dan mengejarnya. Sampai akhirnya Dedi berhasil mengalahkan beberapa pesaingnya dan mempersunting Ayu setelah Ayu meraih gelar dokter dan Dedi telah menjadi seorang notaris.
Selain membuka praktik di rumah, Ayu juga menjadi dosen di suatu universitas pendidikan. Di tahun-tahun pertama pernikahannya, kehidupan Ayu sangat bahagia. Memiliki suami seorang notaris yang ganteng, sekaligus pemilik beberapa perusahaan kecil warisan keluarga. Meski kecil, tapi ketiga perusahaan yang dimiliki sang suami yang anak tunggal itu telah memberi mereka kehidupan yang berkecukupan. Kebahagiaan bertambah lengkap seiring kehadiran tiga buah hati mereka. Ah, Ayu sangat bahagia mengenang kembali masa-masa indah itu.
Masa berganti hingga kebahagiaan itu pelan-pelan memudar. Sebagai seorang dosen, Ayu dituntut melanjutkan studi ke jenjang S2. Namun, saat menyelesaikan tesis, Ayu terkena depresi. Ternyata hal itu memicu munculnya penyakit pada diri Ayu. Jika sedang depresi, dia seperti hilang ingatan. Pikirannya kosong, bahkan sampai tak bisa merawat dirinya sendiri.
Meski akhirnya dia bisa menyelesaikan S2-nya, tetapi semenjak itu masalah apa pun yang dirasa cukup berat baginya, bisa menjadikannya seperti orang hilang ingatan. Akhirnya, Ayu pun menjadi tergantung pada obat-obat penenang. Seorang psikiater menjadi langganannya setiap kali dia depresi. Kurangnya merawat diri dan efek dari obat-obat penenang membuat badan Ayu menjadi tambun, hingga berbagai penyakit menghinggapinya, mulai dari darah tinggi, diabetes, lemah jantung, dan asma. Meskipun dia masih bisa bekerja, tetapi sering kali aktivitasnya terganggu sehingga dia tidak bisa optimal dalam berkarya, baik sebagai seorang dosen maupun sebagai seorang dokter.
Suaminya memang tetap menyayanginya, tetapi dia jadi lebih suka pergi sendiri ke mana-mana tanpa mengajak Ayu. Dia lebih suka beraktivitas dengan teman-temannya dan tenggelam dalam kesibukannya. Ayu memang diberikan kemewahan oleh suaminya. Ada mobil mewah dan seorang sopir yang siap mengantar ke mana pun Ayu pergi. Ada tiga pembantu dan seorang tukang kebun yang siap melayaninya di rumah yang besar dan mewah. Tetapi, hati Ayu semakin hari semakin gersang. Kemesraan suaminya dirasakannya semakin hari semakin berkurang.
Ayu terbangun dari lamunan ketika suaminya menggeliat mengubah posisi tidur. Sesaat kemudian, Ayu mulai berpikir lagi. Dia teringat nasihat ayahnya saat Ayu mengutarakan permasalahannya tiga hari lalu.
“Ayu, kalau kamu kuat, sabar, dan ikhlas maka bagimu adalah pahala dan surga sebagai balasannya. Tetapi, kalau kamu tidak bisa menjalaninya, maka bercerai adalah pilihan yang terbaik agar kamu tidak terjebak dalam dosa jika tidak bisa ikhlas dan sabar dalam menjalani kehidupan poligami itu.
Seandainya kamu memilih bercerai, siapkah kamu berpisah dari suami dan anak-anakmu, dan hidup sendiri? Memang secara ekonomi kamu tidak akan kekurangan nantinya, tapi kamu akan merasa kesepian. Hak perwalian anak sudah pasti akan jatuh pada Dedi mengingat kondisimu yang seperti ini. Jadi, pertimbangkan masak-masak. Ayah lihat Dedi adalah suami yang bertanggung jawab. Dan, Ayah yakin dia akan selalu berusaha untuk berbuat adil kepada kedua istrinya nanti.”
Kata-kata bijak ayahnya kembali terngiang-ngiang di telinganya. Ayu mengingat-ingat, memang betul Dedi selama ini telah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab serta sayang pada istri dan anak-anaknya. Mungkin ini semua adalah kesalahannya juga kenapa dia tidak bisa merawat diri hingga dia kini tidak tampak menarik lagi di mata suaminya.
Tak hanya minta pendapat pada ayahnya, Ayu pun kemarin sempat curhat kepada Dina, sahabatnya di kampus tempatnya mengajar. Ayu berterus terang bahwa selama ini dia sangat iri pada Dina. Dina adalah perempuan cantik, tinggi semampai, dan cerdas yang sekarang sedang mengambil program doktor di sebuah universitas ternama.
Menurut Ayu, kehidupan Dina sempurna. Dia mempunyai seorang suami yang begitu mengagumi dan mencintainya, serta dua anak yang manis dan pintar-pintar. Ayu melihat Dina tidak pernah punya masalah seperti dirinya.
“Ayu, tidak selamanya yang kamu lihat sempurna pada diri seseorang itu adalah sungguh-sungguh sempurna. Mungkin aku memang tampak sempurna di mata orang-orang, itu karena Tuhan menutupi aib dan kekuranganku. Orang Jawa bilang, sawang-sinawang,” jelas Dina panjang lebar. “Tahukah kamu bahwa aku sebenarnya juga punya masalah dalam rumah tangga, tapi aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, termasuk juga kepadamu, Ayu. Semuanya cukup aku dialogkan pada Tuhan. Tidak ada manusia yang sempurna, Ayu, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan,” sambung Dina mencoba menasihati sahabatnya.
“Tapi fisikmu kan sempurna, suamimu juga sangat mencintaimu, tidak pernah menduakanmu,” balas Ayu bernada protes.
“Memang, tetapi setiap manusia oleh Tuhan diberi ujiannya masing-masing. Bukankah belum beriman seseorang sebelum dia diuji oleh Tuhannya? Ayu, secara ekonomi hidupmu jauh lebih beruntung dariku. Suamiku tidak seberuntung suamimu. Gaji suamiku bahkan tidak lebih banyak dari gajiku. Itulah ujian bagi rumah tangga kami. Yang terpenting adalah rasa syukur kita pada Tuhan,” sambung Dina lagi dengan nada sabar.
Ayu merenung saat mengingat kembali mengingat nasihat dari sahabatnya itu kemarin. Dia tersadar bahwa setiap orang tidak ada yang memiliki kehidupan sempurna. Dia kemudian ingat Ely, temannya yang mempunyai anak dengan keterbelakangan mental. Ayu tidak pernah mendengar Ely mengeluh sedikit pun atas ujian Tuhan ini. Dia tetap menganggap anaknya adalah karunia Tuhan yang harus tetap dia sayangi dan dia besarkan tanpa rasa malu.
Pernah suatu hari Ayu melihat Ely mengajak anaknya pada acara resepsi pernikahan teman sekantornya. Ely tanpa malu-malu memperkenalkan anaknya itu kepada teman-teman kantornya. Mengingat itu semua Ayu jadi tersadar bahwa tak sepantasnyalah dia protes pada Tuhan atas segala ujian yang harus dijalaninya selama ini.

Dalam kegelisahan yang sangat hebat, akhirnya Ayu memutuskan untuk beringsut dari kamar, mengambil air wudhu dan kemudian shalat. Telah sekian lama dia tidak melakukannya semenjak sering protes pada Tuhan atas semua penyakit yang dideritanya. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya kini selain pasrah kepada Tuhan, meminta petunjuk-Nya. Selesai shalat, Ayu berdoa sambil menangis memohon agar Tuhan memberinya petunjuk untuk mengambil keputusan yang terbaik. Ayu berdoa sangat lama sampai dia merasa capai dan tertidur di ruang shalat, masih dengan mukenanya.
Ayu terbangun saat terdengar azan Subuh, hanya dua jam setelah matanya terpejam tadi. Sekejap kemudian Ayu tersadar bahwa pagi ini dia harus menyampaikan keputusan pada suaminya. Entah mengapa, dalam hatinya kini dia merasa mantap untuk mengizinkan suaminya menikah lagi dengan Fitri, apa pun yang terjadi nanti.
Dia percaya Tuhan akan selalu membimbingnya untuk selalu sabar dan ikhlas. Dia lupakan kisah tentang keajaiban cinta karena yang ada di depannya kini adalah cinta yang berbatas logika. Dan, itu yang dia rasakan pada cinta suaminya terhadap dirinya. (*)
 .